Search

ruangracau

Tag

UK life

Catatan Lebaran 2016: Newcastle

Meski sudah hampir dua tahun tinggal di UK, lebaran tahun lalu saya mudik, jadi baru tahun inilah saya merasakan yang namanya lebaran di negeri orang. Jadi bagaimana rasanya? Berikut beberapa catatan saya tentang Idul Fitri 6 Juli 2016 kemarin di Newcastle:

Baju nasional

Sholat Ied di Newcastle diselenggarakan di daerah Fenham di sisi barat kota, cukup jauh dari rumah saya yang terletak di sisi timur kota, sehingga saya harus naik bus untuk sampai di lokasi. Saat menunggu bus di halte depan rumah, saya bertemu dengan tiga orang dari Malaysia yang akan menuju tempat sholat Ied juga. Dua perempuan dan satu laki-laki. Yang perempuan mengenakan abaya dan kain yang sepertinya sejenis songket, dan yang laki-laki melilitkan sarung selutut di atas celana panjang bahan yang ia kenakan. Seketika saya melirik diri sendiri yang cuma menggunakan blus dan rok yang biasa dipakai sehari-hari ke kantor dan mendadak merasa saya ini kok kayaknya kurang nasionalis ya dibanding mereka :3

Bus yang penuh dan kumandang takbir
Continue reading “Catatan Lebaran 2016: Newcastle”

Advertisements

Sehabis Brexit dan Perasaan Ditolak Itu

Butuh empat hari bagi saya untuk menyiapkan hati menulis tentang keluarnya Inggris dari Uni Eropa alias Brexit. Bukan apa-apa, semata karena apa yang saya rasakan dan tangkap tentang Brexit ternyata terus berubah-ubah setiap harinya.

Satu hari sebelum hari pemilihan, saya, sebagai pemegang paspor Indonesia yang sedang tinggal sementara di sini, masih merasa tidak memiliki ikatan apa-apa dengan referendum ini. Ketika ditanya pendapat oleh seorang teman yang asli sini, saya masih bisa guyon geje, “Ah buatku sih nggak ada ngaruhnya Inggris mau keluar atau tetap di Uni Eropa, toh itu nggak membuat visa Inggrisku bisa untuk masuk Eropa daratan juga wkwkwk…” Tapi persis di pagi hari ketika hasil referendum diumumkan Jumat lalu (dengan leave sebagai pemenangya), rasa abai itu menghilang drastis.

Aura suram seketika terasa begitu saya memasuki kantor Jumat lalu. Meski hari mendung dan beberapa orang di ruangan saya sudah memulai pekerjaannya pagi itu, tampaknya tidak ada yang merasa perlu untuk berinisiatif menyalakan lampu. Bermenit-menit semua terdiam, mencoba menyibukkan diri dengan komputer (dan pikirannya) masing-masing. Tak pernah saya menemui kantor saya begini sebelumnya. Hening yang menyiksa itu baru pecah ketika akhirnya seseorang tampaknya tak tahan lagi menyembunyikan gelisahnya dan berkata pelan, “This is so shocking…”

Continue reading “Sehabis Brexit dan Perasaan Ditolak Itu”

Melindungi yang Rentan

Selama hampir dua tahun tinggal di Inggris, bukan sekali-dua kali saya melihat poster kampanye anti-hate crime seperti di atas, karena Northumbria Police alias satuan kepolisian di daerah saya ini memang memasangnya di mana-mana. Tapi baru sore ini, saya merasakan sendiri bahwa apa yang disuarakan oleh kampanye tersebut, tentang  ‘being you is not a crime, but targeting you is‘, ternyata bukan sekadar basa-basi slogan.

Sore tadi, saya dan seorang teman Indonesia yang juga berjilbab sedang ngobrol seru di terminal bus ketika seorang mbak bule duduk di bangku sebelah saya. Awalnya saya nggak terlalu memperhatikan dan tetap asyik ngobrol, sampai teman saya yang duduknya menghadap saya (dan otomatis juga menghadap si mbak bule di sebelah saya) berkata pelan, “Bil, mbak itu kayaknya ngomong sama kamu.”

Continue reading “Melindungi yang Rentan”

Penghormatan (Bukan) Hasil Paksaan

“Eh beneran maaf banget loh Salsa, saya tadi nggak sopan gitu menawarkan minum ke kamu. Saya bener-bener lupa kalau kamu lagi nggak makan dan nggak minum…”

Kemarin sore, seorang rekan seruangan saya di kantor sampai bolak-balik meminta maaf, cuma gara-gara lupa kalau saya sedang berpuasa.

Jadi ceritanya, kalau akan mengambil minuman atau kue di dapur, orang-orang kantor saya punya kebiasaan menawarkan ke rekan seruangan yang lain apakah ada yang ingin titip diambilkan minum/kue juga. Ketika dua minggu yang lalu mereka menyadari bahwa saya nggak makan dan nggak minum seharian, saya pun bercerita pada mereka kalau saya lagi berpuasa karena alasan keagamaan sampai sebulan ke depan. Mereka cuma mengangguk-angguk dan sejak itu, mereka tidak lagi bertanya apakah saya ingin titip diambilkan minum juga atau enggak.

Tapi rekan seruangan saya sore itu tampaknya lupa, dan saat dia akan turun ke dapur, dia menawarkan pertanyaan standar-mengambil-minum itu ke saya. Saya menolak tawarannya dengan kalimat super British yang sangat halus. Seketika itu juga ia teringat,
Continue reading “Penghormatan (Bukan) Hasil Paksaan”

Kota dari Ketinggian

Saya bukan pecinta-kota. Apalagi kota besar yang padat dan semrawut, duh nyerah deh saya, rasanya langsung sakit kepala dan mati gaya. Kalaupun memang sedang jalan-jalan ke suatu kota, yang saya suka justru bukanlah berada di tengah kotanya itu sendiri, melainkan menatapnya. Saya paling suka pergi ke suatu tempat tinggi -entah menara, puncak kastil, atau bukit- yang dari sana saya bisa melihat pemandangan kotanya dari ketinggian. Rasanya… menentramkan. Seperti bebas lepas dari segala stres hahaha lebay.

Berikut adalah foto-foto pemandangan kota dari ketinggian yang pernah saya ambil di beberapa kota di UK. Continue reading “Kota dari Ketinggian”

Dari Politik Identitas sampai Teknik Display: 3 Museum Favorit Saya di UK (bagian 2)

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari dua tulisan. Bagian pertama bisa dibaca di sini.

 

Keluarga dengan anak kecil? Ke Seven Stories (Newcastle) saja!

Pergi bersama anak kecil dan ragu ke museum karena takut si anak bosan? Seven Stories, The National Centre for Children’s Book bisa jadi jalan tengahnya.

Pertama kali saya ke Seven Stories adalah saat harus memilih salah satu museum di Newcastle dan sekitarnya untuk keperluan observasi tugas kuliah. Dan sejak itu, saya jatuh cinta dengan tempat ini. Museum ini membangkitkan kembali fantasi kanak-kanak saya yang dipenuhi buku-buku seru penuh petualangan seperti serial Lima Sekawan-nya Enid Blyton, Pippi si Kaus Kaki Panjang, dan banyaak lainnya.

Untuk anak-anak, ada banyak aktifitas asyik yang bisa dilakukan di museum ini, mulai dari dressing up sebagai karakter dari berbagai buku cerita anak, aneka permainan seru, kerajinan tangan, dan dongeng interaktif yang para pendongengnya memakai kostum, bergerak, menyanyi, dan menari seiring cerita yang sedang dikisahkan. Layout galeri dan penempatan objek-objek yang di-display juga ditata sedemikian rupa sehingga yang besar dan yang kecil, yang orang tua dan yang anak-anak, akan mendapatkan insight berbeda, sehingga bisa memancing diskusi dan interaksi antar anggota keluarga.

Bagi pengunjung dewasa, jangan khawatir, Continue reading “Dari Politik Identitas sampai Teknik Display: 3 Museum Favorit Saya di UK (bagian 2)”

Dari Politik Identitas sampai Teknik Display: 3 Museum Favorit Saya di UK (bagian 1)

Sebagai anak yang kuliah dan sehari-hari belajar tentang museum, saya kadang merasa bersalah karena jarang menulis tentang museum di luar keperluan akademis hahahaha. Berhubung ini akhir pekan yang identik dengan jalan-jalan, dua hari ini saya mau nulis tentang tiga museum favorit saya di UK. Tentu saja favorit di sini bukan berarti memang museum-museum itulah yang paling keren dan paling oke dari seantero museum yang ada di UK, karena sesungguhnya, baru sebagian keciiill saja museum di UK yang pernah saya kunjungi :3. Ketiga museum ini saya pilih dengan pertimbangan, masing-masing mewakili ketercapaian salah satu dari beberapa aspek penting di museum, yaitu menumbuhkan jati diri dan identitas, teknik display yang menarik, dan hiburan edukatif bagi seluruh keluarga.

Kalau ada yang lagi di UK dan kepengen nyicipin kayak apa sih di museum di sini, tiga museum ini bisa jadi alternatif 🙂

 

Berbangga menjadi Scottish di National Museum of Scotland (Edinburgh)

Mengutip dari webnya, di museum ini “our diverse collections will take you on a journey of discovery through the history of Scotland, the wonders of nature and world cultures – all under one roof”. Gampangnya, museum ini menampilkan segala hal tentang tanah Skotlandia: sejarah kehidupan manusianya, mulai dari yang paling purba seperti masa prasejarah, revolusi industri, hingga yang paling kontemporer seperti dinamika referendum beberapa waktu silam; flora fauna dan kekayaan alamnya; juga sedikit bagian tentang kebudayaan-kebudayaan lain di dunia dan bagaimana Skotlandia berinteraksi dengan itu semua. Saking banyaknya yang ditampilkan, buat saya pribadi, waktu sehari nggak akan cukup untuk mengelilingi seisi museum ini hahaha. Tapi tenang saja, kalau memang cuma punya waktu sehari, kita bisa ambil denah museum yang disediakan gratis di resepsionis, dan pilih sendiri topik/bagian mana yang paling menarik minat dan ingin dikunjungi.

Sebenarnya, kalau dari segi teknik display koleksinya, National Museum of Scotland ini mungkin cenderung tidak banyak berbeda dari museum-museum lain di UK. Akan tetapi, sebagai museum berbasis regional yang memang punya tujuan untuk mengukuhkan identitas keregionalannya, museum ini menurut saya adalah yang paling berhasil Continue reading “Dari Politik Identitas sampai Teknik Display: 3 Museum Favorit Saya di UK (bagian 1)”

2 Hari Menghilang: Perbatasan, Quadbike Rasa Roller Coaster, Kehilangan, Hadrian’s Wall, dan Kemping Ceria

Oke, pertama-tama saya mau membuat pengakuan dosa: dua hari kemarin saya bolos nggak nulis untuk #30HariNgeblog :3. Tapi sungguh deh, absen itu beneran karena sangat banyak hal yang terjadi tiga hari ini. Apa saja? Ohoho, tentu saya nggak akan menuliskan semua cerita detail dalam satu postingan ini. Di sini, saya cuma akan semacam merekap dan berbagi beberapa foto yang menjadi highlight-nya. Beberapa cerita akan saya tulis jadi bagian tersendiri untuk postingan selanjutnya, lumayan kan jadi ada bahan tulisan untuk beberapa hari ke depan :p

Kamis lalu, Continue reading “2 Hari Menghilang: Perbatasan, Quadbike Rasa Roller Coaster, Kehilangan, Hadrian’s Wall, dan Kemping Ceria”

Keamanan VS Kenyamanan

***** Bank protects your card against unauthorised use online at no cost. The purchase you are making cannot be completed at this time.

Dua hari ini, saya berusaha melakukan pembayaran online yang jumlahnya lumayan besar via debit card rekening UK saya. Bolak-balik bolak-balik mencoba berkali-kali, transaksi selalu gagal, malah muncul pesan seperti di atas. Rupanya, nominal transaksi yang saya lakukan terlampau besar dan dianggap nggak wajar, apalagi dibandingkan dengan penggunaan debit card yang rutin saya lakukan sehari-harinya. Gara-gara itu, sistem keamanan bank mencurigai bahwa transaksi tersebut fraud, alias ada pihak lain yang mencoba mempergunakan uang dari rekening saya untuk kepentingannya tanpa sepengetahuan saya, semacam pembobolan rekening yang belakangan santer di berita-berita.

Untuk mengonfirmasi ke bank kalau transaksi tersebut benar dilakukan oleh saya selaku pemilik rekening yang sah, saya harus Continue reading “Keamanan VS Kenyamanan”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑