Search

ruangracau

Tag

puasa

Penghormatan (Bukan) Hasil Paksaan

“Eh beneran maaf banget loh Salsa, saya tadi nggak sopan gitu menawarkan minum ke kamu. Saya bener-bener lupa kalau kamu lagi nggak makan dan nggak minum…”

Kemarin sore, seorang rekan seruangan saya di kantor sampai bolak-balik meminta maaf, cuma gara-gara lupa kalau saya sedang berpuasa.

Jadi ceritanya, kalau akan mengambil minuman atau kue di dapur, orang-orang kantor saya punya kebiasaan menawarkan ke rekan seruangan yang lain apakah ada yang ingin titip diambilkan minum/kue juga. Ketika dua minggu yang lalu mereka menyadari bahwa saya nggak makan dan nggak minum seharian, saya pun bercerita pada mereka kalau saya lagi berpuasa karena alasan keagamaan sampai sebulan ke depan. Mereka cuma mengangguk-angguk dan sejak itu, mereka tidak lagi bertanya apakah saya ingin titip diambilkan minum juga atau enggak.

Tapi rekan seruangan saya sore itu tampaknya lupa, dan saat dia akan turun ke dapur, dia menawarkan pertanyaan standar-mengambil-minum itu ke saya. Saya menolak tawarannya dengan kalimat super British yang sangat halus. Seketika itu juga ia teringat,
Continue reading “Penghormatan (Bukan) Hasil Paksaan”

Advertisements

Kenapa Puasa Kita Jadi Mendzalimi Orang Lain?

Dari sekian banyak kabar menguras emosi hari ini, yang paling membuat pedih adalah petikan video rekaman razia sejumlah warung makan di Serang yang screenshotnya saya tampilkan di atas.

Lihat sorot mata sedih ibu penjual makanan yang dagangannya dirampas paksa itu: tanpa kata pun ia bicara banyak, tentang ketakberdayaan melawan arogansi dan kesewenangan.

Orang-orang yang membuat aturan dan melakukan razia itu bilang, ini bagian amar ma’ruf nahi munkar. Oh ya? Coba tolong ceramahkan pada saya yang kurang banyak mengkaji kitab ini, bagian mana dari ajaran Islam yang menyebut bahwa berjualan makanan di bulan puasa adalah maksiat? Apa ibu penjual makanan itu mencekoki nasi pada orang-orang yang lewat?

Jadi yang mana yang munkar sebenarnya: mencari nafkah bagi diri dan keluarga dengan cara yang halal dan menghindarkan diri dari meminta-minta, atau menghancurkan jalan rezeki orang?

Bukankah salah satu hikmah puasa adalah agar kita bisa berempati pada mereka yang berkekurangan? Alih-alih berempati, kenapa puasa kita malah jadi mempersulit mereka?

Alih-alih menjadikan kita lembut hati, kenapa puasa kita malah jadi mendzalimi orang lain begini?

Kasihan bulan suci ini, kasihnya pada orang-orang kecil seolah tak berbekas di tangan gerombolan arogan yang mengaku-aku sedang menjaga kesucian bulan ini.

 

Semoga puasa kita bernilai lebih dari sekadar tidak makan dan tidak minum belaka….

 

#Hari_ke_10 #30HariNgeblog

Puasa Kita

Persis saat perut sedang di puncak krucuk-krucuknya hingga otak tak lagi bisa berkonsentrasi maksimal, kalimat Cak Nun lewat sang baginda di atas menampar saya tepat di pipi kanan, mengembalikan kesadaran

Masihkah pantas merasa gelisah, saat kita masih bisa menghitung berapa jam lagi yang harus dilewati sebelum tiba waktu berbuka, sedang ada orang-orang yang bahkan tak tahu apakah nanti akan ada makanan untuk berbuka.

Masihkah patut mengeluh tak bisa fokus bekerja karena jam puasa yang terlampau panjang, sedang ada orang-orang yang memang sehari-harinya bekerja dalam kondisi berpuasa karena memang tak ada yang bisa dimakan.

Apalah artinya ‘berbangga’ menjalani puasa 19 jam, kalau masih tak jua bisa berempati dan terpikir pada mereka yang berpuasa tanpa kepastian akan berbuka?

Ramadan, seharusnya bukan hanya momen untuk berfokus pada amal-amal pribadi demi menimbun pahala bagi diri sendiri sebanyak-banyaknya, tapi juga bagaimana mengasah kepekaan sosial dan mencari cara untuk memberi kemanfaatan pada sesama seluas-luasnya.

Sumber gambar: https://caknun.com/2016/puasa-baginda/

#Hari_ke_7 #30HariNgeblog

Blog at WordPress.com.

Up ↑