Search

ruangracau

Tag

cerita kantor

Perpisahan untuk Sang Tukang Kebun

Siang tadi, di kantor tempat saya magang ada acara perpisahan untuk seorang tukang kebun yang sudah bekerja di kantor ini selama 19 tahun dan pensiun hari ini. Kencleng patungan kado dan pesan-kesan kartu ucapan sudah diedarkan di kantor sejak dua minggu sebelumnya. Kue-kue disiapkan. Semua staf yang siang itu berada di kantor hadir. Yang memberikan sambutan di acara perpisahan itu adalah bapak CEO sendiri.

Ketika sambutan CEO sampai pada kalimat, “Terima kasih sudah merawat kantor ini selama belasan tahun. Keberadaanmu setiap hari di kebun sejak pagi sekali membuat kami tak pernah merasa khawatir kalau datang ke kantor terlalu pagi,” sang tukang kebun menyeka bulir di ujung matanya dan semua yang hadir bertepuk.

Saya mengikuti jalannya acara sambil termenung. Continue reading “Perpisahan untuk Sang Tukang Kebun”

Antara Manusia 9-5, Kalong, dan Tak Tentu

Selain saya, di kantor tempat saya magang ada dua orang mahasiswa lain yang sedang magang juga. Bedanya, kalau magang saya di sini 9 bulan, magang mereka dua bulan. Di antara keduanya, salah satunya cukup jarang saya lihat di kantor. Tebakan saya, dia mungkin lebih banyak kerja dari rumah.┬áKantor saya ini memang punya skema kerja flexi, yang artinya, karyawan bia menentukan sendiri jam berapa dia mau datang ke kantor, jam berapa dia mau pulang, atau justru memilih kerja dari rumah, asalkan detail jamnya tercatat dan akumulasi jam kerja yang tercatat itu memenuhi ketentuan jam kerja perusahaan. Ketika akhirnya sempat ketemu ngobrol sebentar, dia mengonfirmasi tebakan saya, “Aku banyakan kerja dari rumah nih, soalnya justru aku bisa kerja efektifnya malem, bukan jam sembilan pagi sampai lima sore hahaha…”

Dipikir-pikir, saya juga sebenarnya bukan manusia 9-5 sih, tapi saya juga bukan manusia kalong yang melek maksimalnya di malam hari. Jam efektif saya untuk bekerja malah justru lebih absurd dari teman saya itu hahaha. Continue reading “Antara Manusia 9-5, Kalong, dan Tak Tentu”

Penghormatan (Bukan) Hasil Paksaan

“Eh beneran maaf banget loh Salsa, saya tadi nggak sopan gitu menawarkan minum ke kamu. Saya bener-bener lupa kalau kamu lagi nggak makan dan nggak minum…”

Kemarin sore, seorang rekan seruangan saya di kantor sampai bolak-balik meminta maaf, cuma gara-gara lupa kalau saya sedang berpuasa.

Jadi ceritanya, kalau akan mengambil minuman atau kue di dapur, orang-orang kantor saya punya kebiasaan menawarkan ke rekan seruangan yang lain apakah ada yang ingin titip diambilkan minum/kue juga. Ketika dua minggu yang lalu mereka menyadari bahwa saya nggak makan dan nggak minum seharian, saya pun bercerita pada mereka kalau saya lagi berpuasa karena alasan keagamaan sampai sebulan ke depan. Mereka cuma mengangguk-angguk dan sejak itu, mereka tidak lagi bertanya apakah saya ingin titip diambilkan minum juga atau enggak.

Tapi rekan seruangan saya sore itu tampaknya lupa, dan saat dia akan turun ke dapur, dia menawarkan pertanyaan standar-mengambil-minum itu ke saya. Saya menolak tawarannya dengan kalimat super British yang sangat halus. Seketika itu juga ia teringat,
Continue reading “Penghormatan (Bukan) Hasil Paksaan”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑