Ada banyaaaakk sekali sebenarnya yang ingin saya ceritakan tentang perjalanan saya ke Maroko tanggal 25-29 Juli kemarin. Sayangnya, beberapa deadline berkejaran di depan mata, sehingga saya jelas nggak bisa memprioritaskan catatan perjalanan ini dulu. Saya nggak bisa menjanjikan akan berapa hari sekali catatan ini di-update, nggak bisa menjanjikan juga akan sampai berapa bagian. Tapi saya akan berusaha membuat tiap bagiannya tidak bersambung, sehingga bisa dinikmati lepas meski ternyata tak ada bagian berikutnya atau bagian berikutnya baru muncul berminggu-minggu kemudian. Semoga tetap menikmati ya!

 

Berbeda dengan jalan-jalan saya biasanya yang dilakoni bersama teman Indonesia yang memang udah ce-es-an jalan atau justru malah sendirian aja, sebagian besar hari saya di Maroko dilakukan bersama rombongan shared group tour, karena itulah cara paling murah dan mudah untuk menuju gurun Sahara yang merupakan tujuan utama saya ke Moroko. Shared group tour berarti grup tersebut terdiri dari orang-orang yang mendaftar untuk ikut tour secara perorangan (atau berdua), kemudian ditempatkan di grup mana yang masih ada slot kosongnya secara acak. Jadi, orang-orang di dalam rombongan ini umumnya sama sekali tidak saling mengenal sebelumnya.

Rombongan saya didominasi oleh orang-orang bule Eropa, Amerika, dan Australia. Hanya saya satu-satunya yang Asia. Pada tulisan bagian ini, saya tidak akan bercerita tentang kronologis perjalanan itu sendiri, melainkan tentang satu pelajaran berharga yang saya dapat dari melakukan perjalanan bersama shared group tour ini.

Dari sudut pandang saya, 3 hari 2 malam perjalanan di Sahara ini sungguh sebuah pengalaman yang gila, exciting, dan tak terlupakan. Sopir minibus dan pemandu tur kami (ada 4 pemandu tur untuk 3 lokasi yang berbeda) adalah orang-orang yang menyenangkan dan terlihat jelas mereka berupaya membuat perjalanan kami funmeski tak selalu berhasil sih wkwkwkwkwk. Tapi saya terkesan dengan upaya mereka. Kalau ada yang buat saya ternyata terasa tak cocok atau wagu, yah, anggap saja mungkin memang justru itulah yang cocok dalam budaya mereka, budaya Berber. Kita tak bisa mengukur budaya orang lain dengan standar budaya kita sendiri kan? Lagipula, bukannya kita ke sini salah satu tujuannya memang untuk belajar sedikit tentang budaya mereka? Jadi sampai akhir tur, saya personal merasa seneng betul karena mendapat banyak insight baru yang bisa saya ceritakan di blog hahahahahaha.

Tapi ternyata teman-teman bule serombongan saya tidak merasakan kesenangan yang sama. Mereka tak puas dengan tur ini dan membandingkannya dengan ‘idealnya tur wisata’ di negara mereka.Ā  Mereka mengeluhkan sopir minibus kami yang katanya pelit bicara. Mereka mengkritisi pemandu wisata di kastil tempat pemberhentian pertama yang mengutip 25 Dhs (~2.5 Eur) untuk jasanya mengantar kami masuk ke sana. Mereka menyinyiri perhentian kami di salah satu kampung Berber karena merasa di sana itu sebenarnya kita cuma dipaksa membeli karpet aja. Mereka mencibir anak-anak dan remaja yang di sepanjang tempat perhentian memaksa memberikan kami sesuatu tapi kemudian meminta bayaran.

Oke, semua itu mungkin memang benar. Tapi hey, saya ternyata bisa melihat semuanya dari sisi lain loh. Sebagian mungkin faktor saya orangnya yang memang super selowww tipikal golongan darah B, dan sebagian lain sepertinya karena sebelum ke sini saya sudah baca banyak review dan blog orang sehingga tau ‘what to expect‘ dan bagaimana menanganinya.

Sopir minibus kami, dia memang irit bicara, tapi lebih karena bahasa Inggris aktifnya yang mungkin memang terbatas. Kalau ditanya, dia akan bersemangat sekali berusaha sebisanya menerangkan dalam bahasa Inggris kok, meski mungkin harus menggunakan bantuan kamus hape. Soal pemandu wisata yang mengutip tambahan uang 25 Dhs, yah, oke, saya memang juga sebenarnya berekspektasi kalau ini seharusnya sudah termasuk di harga paket tur yang kita bayarkan di muka. Tapi setidaknya si pemandu menyampaikan tentang 25 Dhs ini di awal sebelum mulai masuk kastil, tidak ada kejutan tiba-tiba dipaksa membayar di akhir, dan selalu ada pilihan untuk menolak ikut masuk jadi tidak perlu membayar. Tentang kesan tur ke kampung Berber hanya untuk ditawari jualan karpet, kita selalu bisa bilang tidak kan? Saya belajar banyak tentang dunia perkarpetan Berber di sana (saya baru tau ada karpet dibuat dari kaktus!), tapi ketika ditawari membeli, saya cuma cengar-cengir geje bilang ‘no thanks‘ dan mereka oke tuh. Soal anak-anak dan remaja yang memaksa memberikan sesuatu tapi kemudian minta uang, ini masalah lazim di tempat wisata di negara-negara berkembang sih. Tinggal dengan tegas bilang enggak dan kembalikan barangnya, masalah akan beres kok. Malah, ada seorang anak yang memberikan saya anyaman daun kurma berbentuk keledai, dan ketika saya bilang dengan tegas saya nggak bawa uang, dia tetap memaksa saya menerimanya lalu ngeloyor pergi tanpa minta uang lagi *rejeki buat saya kan jadinya wkwkwkwkk…

Cuma dengan memandang segalanya dari sisi lain, perjalanan dan pengalaman yang sama jadi terasa sangat berbeda, kan? Kalo kata filsuf Epictetus yang yang populer dikutip oleh motivator-motivator itu sih, it’s not what happens to you, but how you react to it that matters šŸ™‚

IMG_20160731_111453996
Anyaman daun kurma dari si anak kecil

 

#Hari_ke_26 #30HariNgeblog

 

 

 

Advertisements