Kemarin siang, saya membaca share-share-an yang muncul di timeline Facebook saya, tentang kisah (fiktif?) seorang yang baru membeli mobil dan menolak saat ditawari asuransi. Saya nggak akan membahas soal hukum asuransi yang katanya nggak syar’i itu, lagi males ribut hahaha. Saya lebih tergelitik saat membaca bahwa alasan si tokoh cerita menolak asuransi adalah karena “Daripada saya bayar untuk perusahaan asuransi, lebih baik saya sedekahkan di jalan Allah, karena cuma Allah lah yang sesungguhnya bisa melindungi mobil (dan saya) di jalan, bukan asuransi.” (kira-kira kalimatnya seperti ini, saya lupa persisnya bahasanya gimana dan nggak inget siapa yang ngeshare jadi susah pas mau dilacak lagi :3)

Membaca alasan seperti itu, saya malah jadi ingat kisah tentang seorang sahabat yang datang ke masjid menaiki unta dan masuk masjid begitu saja tanpa mengikat untanya. Saat ditanya oleh Rasulullah kenapa dia tidak mengikat untanya, sahabat ini berkata, “Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?” Nabi bersabda, “Ikatlah kemudian bertawakkallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan Al Albani dalam Shohih Jami’ush Shoghir). Dalam riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan bahwa Amr bin Umayah RadhiyAllahu ‘anhu berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rosululloh!! Apakah aku ikat dahulu unta tungganganku lalu aku berTawakkal kepada Allah, ataukah aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?’, Beliau menjawab, ‘Ikatlah untamu lalu bertawakkallah kepada Allah.” (Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368) – Sumber: https://muslim.or.id/30-tawakkal.html

Balik lagi ke kisah pembeli mobil, nggak mau beli asuransi karena alasan hukum syar’inya yang belum jelas ya silakan aja sih, toh itu pilihan pribadi. Tapi mbok jangan terus pakai alasan menolak karena ingin langsung berpasrah pada Allah tho ya, Rasulullah aja menyuruh untuk melakukan usaha preventif (mengikat unta) terlebih dahulu sebelum bertawakkal kan 🙂

 

#Hari_ke_24 #30HariNgeblog
Advertisements