Siang tadi, di kantor tempat saya magang ada acara perpisahan untuk seorang tukang kebun yang sudah bekerja di kantor ini selama 19 tahun dan pensiun hari ini. Kencleng patungan kado dan pesan-kesan kartu ucapan sudah diedarkan di kantor sejak dua minggu sebelumnya. Kue-kue disiapkan. Semua staf yang siang itu berada di kantor hadir. Yang memberikan sambutan di acara perpisahan itu adalah bapak CEO sendiri.

Ketika sambutan CEO sampai pada kalimat, “Terima kasih sudah merawat kantor ini selama belasan tahun. Keberadaanmu setiap hari di kebun sejak pagi sekali membuat kami tak pernah merasa khawatir kalau datang ke kantor terlalu pagi,” sang tukang kebun menyeka bulir di ujung matanya dan semua yang hadir bertepuk.

Saya mengikuti jalannya acara sambil termenung. Seumur-umur, baru kali ini saya mendapati acara perpisahan diselenggarakan oleh sebuah kantor untuk melepas seorang tukang kebun. Selama ini yang pernah saya dengar, kantor-kantor mengadakan acara perpisahan, ya untuk kepala kantor, manajer, dan jabatan-jabatan ‘penting’ lainnya. Sementara kalau untuk orang-orang ‘kecil’ macem tukang kebun atau cleaning service misalnya? Ah, jangankan membuatkan acara perpisahan khusus untuk mengapresiasi mereka, jangan-jangan, sekadar tersenyum dan mengucap terima kasih atas bantuan mereka tiap harinya saja, jarang dilakukan? Buat saya, ini sungguh tamparan telak. Sudahkah kita memanusiakan dan berlaku baik pada semua staf dan rekan kerja, tanpa pandang apa jabatan dan posisi mereka?

Jadi begitulah. Siang ini, saya belajar banyak tentang pentingnya mengapresiasi, dari satu hal sederhana tapi menyentuh hati: acara perpisahan untuk sang tukang kebun.

 

#Hari_ke_20 #30HariNgeblog

Advertisements