Butuh empat hari bagi saya untuk menyiapkan hati menulis tentang keluarnya Inggris dari Uni Eropa alias Brexit. Bukan apa-apa, semata karena apa yang saya rasakan dan tangkap tentang Brexit ternyata terus berubah-ubah setiap harinya.

Satu hari sebelum hari pemilihan, saya, sebagai pemegang paspor Indonesia yang sedang tinggal sementara di sini, masih merasa tidak memiliki ikatan apa-apa dengan referendum ini. Ketika ditanya pendapat oleh seorang teman yang asli sini, saya masih bisa guyon geje, “Ah buatku sih nggak ada ngaruhnya Inggris mau keluar atau tetap di Uni Eropa, toh itu nggak membuat visa Inggrisku bisa untuk masuk Eropa daratan juga wkwkwk…” Tapi persis di pagi hari ketika hasil referendum diumumkan Jumat lalu (dengan leave sebagai pemenangya), rasa abai itu menghilang drastis.

Aura suram seketika terasa begitu saya memasuki kantor Jumat lalu. Meski hari mendung dan beberapa orang di ruangan saya sudah memulai pekerjaannya pagi itu, tampaknya tidak ada yang merasa perlu untuk berinisiatif menyalakan lampu. Bermenit-menit semua terdiam, mencoba menyibukkan diri dengan komputer (dan pikirannya) masing-masing. Tak pernah saya menemui kantor saya begini sebelumnya. Hening yang menyiksa itu baru pecah ketika akhirnya seseorang tampaknya tak tahan lagi menyembunyikan gelisahnya dan berkata pelan, “This is so shocking…”

Seketika itu juga suasana menjadi riuh. Semua orang seolah berlomba-lomba mengungkapkan keterkejutan dan kekecewannya dengan hasil yang baru saja keluar pagi itu. Seseorang bercerita, ia dibangunkan pagi hari ini oleh suaminya yang memberitahu hasil referendum, dan ia sampai berkali-kali mencubit dirinya sendiri untuk memastikan kalau ia tidak sedang mimpi buruk. Yang lain menyebut berulang-ulang tentang betapa memalukannya ini, tentang nilai poundsterling yang langsung jatuh bebas, dan tentang perdana menteri yang kemudian mundur. Seorang yang berasal dari Scotland menyebut tentang first minister Scotland yang pastinya akan menuntut referendum kedua untuk kemerdekaan Scotland. Seseorang lain bahkan setengah guyon setengah frustrasi berkata, “Salsa, kayaknya kita mau ikut kamu ke Indonesia aja deh kalo kacau kayak gini hahaha…” Saya dalam hati: wkwkwkwk nggak tau aja dia kalo di Indonesia juga sama aja semrawutnya :3. Riuh itu mendadak menjadi hening lagi ketika akhirnya seorang rekan yang berasal dari Irlandia berkata sambil tertawa getir, “Aku harus siap-siap pulang atau apply visa kerja nih berarti hahaha…”

Kemurungan ini bertahan sampai akhir hari, ketika satu persatu pamit pulang sambil berkata, “Hope we have a nice weekend, keep smile guys…

Hari kedua dan ketiga setelah pengumuman hasil referendum adalah akhir pekan yang diwarnai dengan share-share-an di media sosial tentang hate crime yang merebak tak terkendali dari orang-orang yang dengan hasil leave ini jadi merasa mendapat legitimasi untuk mengusir imigran dan berseru rasis. Termasuk salah satunya adalah demo anti-imigran yang terjadi di pusat kota Newcastle, kota tempat saya tinggal ini yang selama ini terkenal sebagai kota multikultural. Saya memang tidak keluar rumah di akhir pekan itu karena sedang ngebut nyelesain kerjaan sehingga tidak mengalami dan menyaksikan sendiri, tapi melihat foto-foto dan skrinsyut-skrinyut itu ternyata sudah cukup membuat saya patah hati. Lebih patah hati lagi membaca satu komen dari seorang Eropa yang sudah menetap cukup lama di sini yang kira-kira berbunyi begini, “Aku sama sekali nggak pernah terpikir kalau, orang-orang Inggris yang selama ini selalu santun dan tersenyum ramah pada kita itu, ternyata memiliki keinginan terpendam untuk mengusir kita dari sini…”

Senin pagi, saya mengambil koran lokal dari bus yang saya tumpangi untuk menuju ke kantor, semata ingin melihat apa yang dikatakan media cetak lokal tentang kejadian beberapa hari ini. Dan saya tersenyum melihat foto demo balasan dari Newcastle Unite, yang membela imigran dan pengungsi, terpampang manis sebagai headline hari itu (foto yang saya jadikan featured image tulisan ini). Iya, orang-orang rasis memang ada di mana-mana, tapi begitu juga orang-orang baik 🙂

Memang, buat saya pribadi, yang paling menyesakkan dari hasil referendum ini justru adalah efek sampingnya: pelaku hate crime yang merasa mendapat angin segar dan perasaan ditolak yang mendadak hadir di kalangan para pendatang. Perasaan bahwa kita tidak pernah sepenuhnya diterima di sini, semata karena kita memakai bahasa yang berbeda dan memiliki kebudayaan yang berbeda. Lalu… tiba-tiba saya teringat kalau di negeri sendiri, ada juga sekelompok orang yang suka sekali membentur-benturkan antara ‘pribumi’ dan ‘pendatang’. Bahkan meski mereka yang disebut ‘pendatang’ itu sebenarnya sudah lama sekali berstatus sebagai warga negara Indonesia, berbahasa Indonesia, lahir dan besar di tanah air Indonesia. Perasaan ditolak yang mereka alami, pasti lebih getir lagi ya…

 

#Hari_ke_18 #30HariNgeblog

Advertisements