Tulisan ini adalah bagian terakhir dari dua tulisan. Bagian pertama bisa dibaca di sini.

 

Keluarga dengan anak kecil? Ke Seven Stories (Newcastle) saja!

Pergi bersama anak kecil dan ragu ke museum karena takut si anak bosan? Seven Stories, The National Centre for Children’s Book bisa jadi jalan tengahnya.

Pertama kali saya ke Seven Stories adalah saat harus memilih salah satu museum di Newcastle dan sekitarnya untuk keperluan observasi tugas kuliah. Dan sejak itu, saya jatuh cinta dengan tempat ini. Museum ini membangkitkan kembali fantasi kanak-kanak saya yang dipenuhi buku-buku seru penuh petualangan seperti serial Lima Sekawan-nya Enid Blyton, Pippi si Kaus Kaki Panjang, dan banyaak lainnya.

Untuk anak-anak, ada banyak aktifitas asyik yang bisa dilakukan di museum ini, mulai dari dressing up sebagai karakter dari berbagai buku cerita anak, aneka permainan seru, kerajinan tangan, dan dongeng interaktif yang para pendongengnya memakai kostum, bergerak, menyanyi, dan menari seiring cerita yang sedang dikisahkan. Layout galeri dan penempatan objek-objek yang di-display juga ditata sedemikian rupa sehingga yang besar dan yang kecil, yang orang tua dan yang anak-anak, akan mendapatkan insight berbeda, sehingga bisa memancing diskusi dan interaksi antar anggota keluarga.

Bagi pengunjung dewasa, jangan khawatir, ada banyak topik-topik bahasan menarik yang ditampilkan dengan tata grafis yang keren di sini. Pameran di dua galeri utama juga selalu berganti tiap enam bulan atau setahun sekali, jadi akan selalu ada alasan untuk kembali ke sini lagi.

Satu hal yang cukup disayangkan, terutama bagi orang yang hobi jepret sana jepret sini selfie sana selfie sini macem saya, di galeri utama museum ini, tidak diperkenankan mengambil gambar. Makanya untuk bagian Seven Stories ini, mohon maaf tidak ada foto yang bisa saya tampilkan 😦

 

Melibatkan seluruh panca indera di The Roman Baths (Bath)

Menggadang-gadang dirinya sebagai salah satu situs sejarah paling terpelihara dan terkelola dengan baik di UK dan Eropa bagian utara, The Roman Baths memang tidak sedang beromong-kosong. Situsnya sendiri sebenarnya ‘hanyalah’ sebuah kompleks kolam pemandian, kira-kira mirip dengan komplek pemandian Tamansari di Yogyakarta termasuk air kolamnya yang berwarna hijau juga mirip. Hanya saja, Departemen Heritage Services-nya Bath & North East Somerset Council  (kira-kira semacam Dinas Kebudayaan-nya kota Bath dan North East Somerset) selaku pengelola menggunakan berbagai metode yang melibatkan seluruh panca indera untuk menginterpretasikan dan menyampaikan nilai-nilai pengetahuan dan kesejarahan dari situs cagar budaya ini.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Perangkat audio-visual adalah salah satu sumberdaya yang tampaknya dimanfaatkan betul oleh Roman Baths ini. Di loket depan, selain mendapatkan tiket masuk, masing-masing pengunjung juga akan mendapatkan seperangkat headset yang berfungsi sebagai personal audioguide. Untuk ‘menghidupkan kembali’ suasana kompleks pemandian ini di masa lampau, terdapat juga beberapa video rekonstruksi ritual orang-orang Romawi kuno sebelum berendam, yang disorotkan pada tembok samping kolam menggunakan proyektor.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Selain penggunaan teknologi audiovisual, hal lain yang juga menarik dari Roman Baths ini adalah bagaimana mereka mengompromikan antara kebutuhan display bagi pengunjung dan kepentingan konservasi, terutama pada bagian yang rapuh atau berupa reruntuhan. Salah satunya adalah dengan membuat jembatan tembus pandang yang dibangun melintasi reruntuhan struktur salah satu bagian Roman Baths, memungkinkan pengunjung untuk merasakan sensasi ‘berjalan langsung di atas situs’ tanpa merusak situsnya.

SAM_1479.jpg

Hal lain tentang Roman Baths yang juga sangat berkesan buat saya adalah bagaimana pengelolanya mengkontekskan dan ‘membawa’ sisa-sisa masa lalu itu ke kehidupan kita sekarang secara nyata. Pengunjung diajak bersentuhan dan mencicipi langsung mata air yang mengaliri pemandian ini sejak beribu tahun silam, dan panas alami dari mata air itu sendiri digunakan juga untuk menghangatkan kompleks bangunan ini. Jadi pengunjung tidak hanya melihat Roman Baths ini dari sudut pandang ‘orang luar’, melainkan juga mendapatkan perspektif ‘pihak pertama’, merasakan langsung apa yang dirasakan orang-orang Romawi kuno itu di jaman dulu kala.

 

Itu dia tiga museum favorit saya di UK yang akan saya rekomendasikan pada orang-orang yang ingin mencicipi pengalaman bermuseum di sini. Kalau kamu punya rekomendasi museum favorit juga, boleh dong saya dibagi 😀

 

Featured photo: alun-alun kota Bath yang cantik, persis di sisi luar The Roman Baths.

 

#30HarNgeblog #Hari_ke_12

Advertisements