Seperti yang saya sebut di postingan beberapa hari yang lalu, akhir pekan kemarin saya dan tiga orang teman, yaitu Mbak Rani, Dilla, dan Resty, pergi kemping di Northumberland National Park. Dari sekian banyak hal dodol yang kami alami selama kemping, salah satu yang berhasil bikin kami membahasnya sambil ngakak nggak berhenti-berhenti adalah kegejean saat bemain monopoli di tenda.

Ada yang nggak tahu permainan monopoli kah? Bagi anak generasi 90an ke atas, permainan ini mungkin sama populernya dengan permainan ular tangga. Banyak orang bilang, permainan monopoli dapat digunakan untuk mengajarkan pada anak tentang pentingnya investasi dan cara cerdas mengelola keuangan. Tapi dari pengalaman kami bermain monopoli kemarin, dua pelajaran yang paling menonjol yang kami dapatkan adalah justru tentang sisi-sisi kelam dunia hahahaha. Apa saja?

Pertama, asal kamu punya aset/kekayaan, masuk penjara tidak akan membuatmu miskin, malah justru bertambah kaya. Hal ini dialami oleh Dilla, yang di paruh awal permainan merupakan pemain terkaya. Menguasai banyak tanah dan properti di atas papan monopoli, meski di dalam penjara pun uang tetap mengalir ke kantong Dilla dari bayaran sewa tanah dan/atau rumah dari pemain-pemain lain yang terpaksa mampir. Bukan hanya bisa tetap mendapatkan passive income, saat di penjara Dilla juga jadi terbebas dari kemungkinan mampir di tanah orang lain yang akan mengharuskannya mengeluarkan uang, menguntungkan kan makanya Dilla malah jadi ketagihan masuk penjara :v.

Kedua, monopoli dan kuasailah sektor yang menangani hajat hidup orang banyak, maka kamu akan mendapatkan kekayaan berlimpah ruah. Tak perlu pedulikan rakyat jelata yang menjerit-jerit terhisap darahnya. Dalam permainan monopoli kami, Resty berhasil menguasai dua perusahaan utama yang menangani hajat hidup masyarakat, yaitu perusahaan listrik dan perusahaan air. Benar saja, dalam waktu singkat, Resty sukses membuat Dilla yang tadinya merupakan pemain terkaya menjadi jatuh miskin dan bangkrut. Saya dan Mbak Rani juga menjadi korban kebiadaban dua perusahaan yang dimonopoli Resty ini, meski tidak sampai bangkrut dan harus jual-jual aset seperti Dilla sih wkwkwkwk.

Sisi kelam dunia monopoli ini tentu saja nggak sepenuhnya menggambarkan dunia realita, karena dunia kita tentu punya aturan-aturan dan hukum yang berbeda. Tapi boleh dong kalau saya bilang, dua kekelaman yang terjadi di dunia monopoli itu sedikit banyak mengingatkan saya pada berbagai ketidakadilan yang terjadi di dunia kita? :3

Kredit foto: Mbak Rani.

#30HariNgeblog #Hari_ke_8

 

 

Advertisements