“Nggak papa, cuma mau tanya kabar aja. Kok kamu curigaan amat sih :3”

Saya tertegun mendapati pesan balasan itu. Ceritanya, beberapa menit sebelumnya, sebuah pesan WA dari nomor tak dikenal masuk ke hape saya. Mengecek profile picture-nya, saya langsung tahu kalau dia adalah seorang teman lama yang sudah lama sekali tidak saling kontak. Pesannya sederhana, menyapa dan menanyakan kabar. Refleks saya balas begini, “Oh kabarku baik alhamdulillah. Ada apa?”

Balasan darinya kemudian membuat saya termenung beberapa jenak. Iya juga sih, selama ini, kalau ada teman yang sudah lama nggak kontak tiba-tiba menghubungi, refleks pertanyaan yang muncul di kepala saya adalah, ‘ada perlu apa dia menghubungi saya?’ atau prasangka yang lebih parah lagi: jangan-jangan dia mau memprospek saya buat gabung MLM-nya hahahaha. Padahal, tidak semua orang menghubungi karena ada perlu atau ada maunya kan?

Saya jadi menyadari, prasangka saya itu sungguh menyedihkan sebenarnya, karena seolah menganggap pertemanan dibangun berdasarkan pertimbangan keperluan belaka, yang dihubungi hanya kalau dibutuhkan dan diabaikan ketika tidak lagi dirasa ada perlunya. Lebih membuat sedih lagi, jangan-jangan saya refleks punya pikiran seperti itu karena saya juga melakukan hal yang sama: menghubungi orang hanya kalau sedang ada perlu atau ada maunya. Duh jahat sekali kalau memang ternyata selama ini itulah yang saya perbuat 😦

Sepertinya, saya harus mulai mencoba menyapa kembali teman-teman lama, apalagi orang-orang yang dengan mereka dulu saya pernah berbagi tawa dan duka bersama. Bukan hanya karena ada perlunya, tetapi memang semata diniatkan untuk menyambung silaturahmi yang mungkin -seiring waktu, jarak, dan kesibukan- menjadi terlupakan.

Marhaban ya Ramadan…

#Hari_ke_6 #30HariNgeblog

Advertisements