Search

ruangracau

Month

June 2016

‘Hobi’ Memasak?

Suatu hari seorang teman di sini -yang tahu kalau saya seringkali bikin oseng mercon, somay, bakso, pempek, tahu isi, klepon, martabak, dll- bertanya, “Bil, kamu suka masak sejak kapan?

Tawa saya pecah mendengar pertanyaan itu, dan saya masih mesem-mesem geje ketika akhirnya menjawab, “Sejak di Inggris. Waktu di Indonesia mah mana pernah aku masak hahahahahaha….”

Iya, saya sebenarnya bukan orang yang hobi-hobi amat masak. Belasan tahun tumbuh besar di rumah, bisa dihitung jari berapa kali saya berkutat di dapur. Terlebih keluarga saya bukan keluarga yang memegang erat pakem lama bahwa ‘jadi anak perempuan harus bisa masak’. Lima tahun di Jogja apalagi, selain waktu masak buat warung, mana pernah saya masak, lha makanan-makanan enak harganya murah dan bisa dibeli di mana-mana dengan gampang kok hahaha.

Jadi apa yang akhirnya membuat saya di Inggris malah jadi suka masak?

Continue reading “‘Hobi’ Memasak?”

Sehabis Brexit dan Perasaan Ditolak Itu

Butuh empat hari bagi saya untuk menyiapkan hati menulis tentang keluarnya Inggris dari Uni Eropa alias Brexit. Bukan apa-apa, semata karena apa yang saya rasakan dan tangkap tentang Brexit ternyata terus berubah-ubah setiap harinya.

Satu hari sebelum hari pemilihan, saya, sebagai pemegang paspor Indonesia yang sedang tinggal sementara di sini, masih merasa tidak memiliki ikatan apa-apa dengan referendum ini. Ketika ditanya pendapat oleh seorang teman yang asli sini, saya masih bisa guyon geje, “Ah buatku sih nggak ada ngaruhnya Inggris mau keluar atau tetap di Uni Eropa, toh itu nggak membuat visa Inggrisku bisa untuk masuk Eropa daratan juga wkwkwk…” Tapi persis di pagi hari ketika hasil referendum diumumkan Jumat lalu (dengan leave sebagai pemenangya), rasa abai itu menghilang drastis.

Aura suram seketika terasa begitu saya memasuki kantor Jumat lalu. Meski hari mendung dan beberapa orang di ruangan saya sudah memulai pekerjaannya pagi itu, tampaknya tidak ada yang merasa perlu untuk berinisiatif menyalakan lampu. Bermenit-menit semua terdiam, mencoba menyibukkan diri dengan komputer (dan pikirannya) masing-masing. Tak pernah saya menemui kantor saya begini sebelumnya. Hening yang menyiksa itu baru pecah ketika akhirnya seseorang tampaknya tak tahan lagi menyembunyikan gelisahnya dan berkata pelan, “This is so shocking…”

Continue reading “Sehabis Brexit dan Perasaan Ditolak Itu”

Melindungi yang Rentan

Selama hampir dua tahun tinggal di Inggris, bukan sekali-dua kali saya melihat poster kampanye anti-hate crime seperti di atas, karena Northumbria Police alias satuan kepolisian di daerah saya ini memang memasangnya di mana-mana. Tapi baru sore ini, saya merasakan sendiri bahwa apa yang disuarakan oleh kampanye tersebut, tentang  ‘being you is not a crime, but targeting you is‘, ternyata bukan sekadar basa-basi slogan.

Sore tadi, saya dan seorang teman Indonesia yang juga berjilbab sedang ngobrol seru di terminal bus ketika seorang mbak bule duduk di bangku sebelah saya. Awalnya saya nggak terlalu memperhatikan dan tetap asyik ngobrol, sampai teman saya yang duduknya menghadap saya (dan otomatis juga menghadap si mbak bule di sebelah saya) berkata pelan, “Bil, mbak itu kayaknya ngomong sama kamu.”

Continue reading “Melindungi yang Rentan”

Antara Manusia 9-5, Kalong, dan Tak Tentu

Selain saya, di kantor tempat saya magang ada dua orang mahasiswa lain yang sedang magang juga. Bedanya, kalau magang saya di sini 9 bulan, magang mereka dua bulan. Di antara keduanya, salah satunya cukup jarang saya lihat di kantor. Tebakan saya, dia mungkin lebih banyak kerja dari rumah. Kantor saya ini memang punya skema kerja flexi, yang artinya, karyawan bia menentukan sendiri jam berapa dia mau datang ke kantor, jam berapa dia mau pulang, atau justru memilih kerja dari rumah, asalkan detail jamnya tercatat dan akumulasi jam kerja yang tercatat itu memenuhi ketentuan jam kerja perusahaan. Ketika akhirnya sempat ketemu ngobrol sebentar, dia mengonfirmasi tebakan saya, “Aku banyakan kerja dari rumah nih, soalnya justru aku bisa kerja efektifnya malem, bukan jam sembilan pagi sampai lima sore hahaha…”

Dipikir-pikir, saya juga sebenarnya bukan manusia 9-5 sih, tapi saya juga bukan manusia kalong yang melek maksimalnya di malam hari. Jam efektif saya untuk bekerja malah justru lebih absurd dari teman saya itu hahaha. Continue reading “Antara Manusia 9-5, Kalong, dan Tak Tentu”

Penghormatan (Bukan) Hasil Paksaan

“Eh beneran maaf banget loh Salsa, saya tadi nggak sopan gitu menawarkan minum ke kamu. Saya bener-bener lupa kalau kamu lagi nggak makan dan nggak minum…”

Kemarin sore, seorang rekan seruangan saya di kantor sampai bolak-balik meminta maaf, cuma gara-gara lupa kalau saya sedang berpuasa.

Jadi ceritanya, kalau akan mengambil minuman atau kue di dapur, orang-orang kantor saya punya kebiasaan menawarkan ke rekan seruangan yang lain apakah ada yang ingin titip diambilkan minum/kue juga. Ketika dua minggu yang lalu mereka menyadari bahwa saya nggak makan dan nggak minum seharian, saya pun bercerita pada mereka kalau saya lagi berpuasa karena alasan keagamaan sampai sebulan ke depan. Mereka cuma mengangguk-angguk dan sejak itu, mereka tidak lagi bertanya apakah saya ingin titip diambilkan minum juga atau enggak.

Tapi rekan seruangan saya sore itu tampaknya lupa, dan saat dia akan turun ke dapur, dia menawarkan pertanyaan standar-mengambil-minum itu ke saya. Saya menolak tawarannya dengan kalimat super British yang sangat halus. Seketika itu juga ia teringat,
Continue reading “Penghormatan (Bukan) Hasil Paksaan”

Kota dari Ketinggian

Saya bukan pecinta-kota. Apalagi kota besar yang padat dan semrawut, duh nyerah deh saya, rasanya langsung sakit kepala dan mati gaya. Kalaupun memang sedang jalan-jalan ke suatu kota, yang saya suka justru bukanlah berada di tengah kotanya itu sendiri, melainkan menatapnya. Saya paling suka pergi ke suatu tempat tinggi -entah menara, puncak kastil, atau bukit- yang dari sana saya bisa melihat pemandangan kotanya dari ketinggian. Rasanya… menentramkan. Seperti bebas lepas dari segala stres hahaha lebay.

Berikut adalah foto-foto pemandangan kota dari ketinggian yang pernah saya ambil di beberapa kota di UK. Continue reading “Kota dari Ketinggian”

Kedaluwarsa

Pernah tergoda beli sesuatu, terutama makanan, yang harganya didiskon besar-besaran karena sudah mendekati atau bahkan lewat dari masa kedaluwarsanya? Di Inggris sini, saya pernah beberapa kali, dan biasanya aman-aman aja. Tapi beberapa hari ini, saya kena batunya hahaha.

Dua hari yang lalu (dan ini juga yang membuat saya bolos ngeblog dua hari kemarin), semalaman saya diare parah. Tersangkanya disinyalir sungguh sangat tidak elit: telor asin kedaluwarsa. Kok bisa?

Pertama-tama, jangan bayangkan di sini telor asin harganya murah dan stoknya turah-turah kayak Indonesia. Di sini, sekotak telor asin isi 6 biji biasanya dibanderol sekitar 4-5 pon alias 80-100 ribu rupiah. Mahal gelaak dan kalo nggak kepengen-kepengen banget sih, mending ntar-ntar aja deh hahaha. Jadi ketika lihat sekotak telor asin diobral besar-besaran di toko dekat rumah, mana bisa saya nggak tergoda untuk beli kan? Meski, yaah, Continue reading “Kedaluwarsa”

Dari Politik Identitas sampai Teknik Display: 3 Museum Favorit Saya di UK (bagian 2)

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari dua tulisan. Bagian pertama bisa dibaca di sini.

 

Keluarga dengan anak kecil? Ke Seven Stories (Newcastle) saja!

Pergi bersama anak kecil dan ragu ke museum karena takut si anak bosan? Seven Stories, The National Centre for Children’s Book bisa jadi jalan tengahnya.

Pertama kali saya ke Seven Stories adalah saat harus memilih salah satu museum di Newcastle dan sekitarnya untuk keperluan observasi tugas kuliah. Dan sejak itu, saya jatuh cinta dengan tempat ini. Museum ini membangkitkan kembali fantasi kanak-kanak saya yang dipenuhi buku-buku seru penuh petualangan seperti serial Lima Sekawan-nya Enid Blyton, Pippi si Kaus Kaki Panjang, dan banyaak lainnya.

Untuk anak-anak, ada banyak aktifitas asyik yang bisa dilakukan di museum ini, mulai dari dressing up sebagai karakter dari berbagai buku cerita anak, aneka permainan seru, kerajinan tangan, dan dongeng interaktif yang para pendongengnya memakai kostum, bergerak, menyanyi, dan menari seiring cerita yang sedang dikisahkan. Layout galeri dan penempatan objek-objek yang di-display juga ditata sedemikian rupa sehingga yang besar dan yang kecil, yang orang tua dan yang anak-anak, akan mendapatkan insight berbeda, sehingga bisa memancing diskusi dan interaksi antar anggota keluarga.

Bagi pengunjung dewasa, jangan khawatir, Continue reading “Dari Politik Identitas sampai Teknik Display: 3 Museum Favorit Saya di UK (bagian 2)”

Dari Politik Identitas sampai Teknik Display: 3 Museum Favorit Saya di UK (bagian 1)

Sebagai anak yang kuliah dan sehari-hari belajar tentang museum, saya kadang merasa bersalah karena jarang menulis tentang museum di luar keperluan akademis hahahaha. Berhubung ini akhir pekan yang identik dengan jalan-jalan, dua hari ini saya mau nulis tentang tiga museum favorit saya di UK. Tentu saja favorit di sini bukan berarti memang museum-museum itulah yang paling keren dan paling oke dari seantero museum yang ada di UK, karena sesungguhnya, baru sebagian keciiill saja museum di UK yang pernah saya kunjungi :3. Ketiga museum ini saya pilih dengan pertimbangan, masing-masing mewakili ketercapaian salah satu dari beberapa aspek penting di museum, yaitu menumbuhkan jati diri dan identitas, teknik display yang menarik, dan hiburan edukatif bagi seluruh keluarga.

Kalau ada yang lagi di UK dan kepengen nyicipin kayak apa sih di museum di sini, tiga museum ini bisa jadi alternatif 🙂

 

Berbangga menjadi Scottish di National Museum of Scotland (Edinburgh)

Mengutip dari webnya, di museum ini “our diverse collections will take you on a journey of discovery through the history of Scotland, the wonders of nature and world cultures – all under one roof”. Gampangnya, museum ini menampilkan segala hal tentang tanah Skotlandia: sejarah kehidupan manusianya, mulai dari yang paling purba seperti masa prasejarah, revolusi industri, hingga yang paling kontemporer seperti dinamika referendum beberapa waktu silam; flora fauna dan kekayaan alamnya; juga sedikit bagian tentang kebudayaan-kebudayaan lain di dunia dan bagaimana Skotlandia berinteraksi dengan itu semua. Saking banyaknya yang ditampilkan, buat saya pribadi, waktu sehari nggak akan cukup untuk mengelilingi seisi museum ini hahaha. Tapi tenang saja, kalau memang cuma punya waktu sehari, kita bisa ambil denah museum yang disediakan gratis di resepsionis, dan pilih sendiri topik/bagian mana yang paling menarik minat dan ingin dikunjungi.

Sebenarnya, kalau dari segi teknik display koleksinya, National Museum of Scotland ini mungkin cenderung tidak banyak berbeda dari museum-museum lain di UK. Akan tetapi, sebagai museum berbasis regional yang memang punya tujuan untuk mengukuhkan identitas keregionalannya, museum ini menurut saya adalah yang paling berhasil Continue reading “Dari Politik Identitas sampai Teknik Display: 3 Museum Favorit Saya di UK (bagian 1)”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑